Kehamilan di atas 35 tahun

Hamil lagi di usia 44 tahun…?  Enggak pernah kebayang sebelumnya. Di usia senja, saya harus berpenampilan dengan perut membuncit. O Cemas dan khawatir…? Pasti. Apalagi  keluarga, sebagian besar teman teman, bahkan dokter kandungan, enggak banyak yang mendukung. Yes…I was on my own…tapi suami mendukung penuh kok.

Sebelum memutuskan untuk hamil, saya browsed di internet tentang hamil di usia saya. Ternyata…di usia 35 tahun saja sudah termasuk kehamilan resiko tinggi. Apalagi saya yang usianya sudah 44 tahun.
OEnggak tenang hati memikirkan kemungkinan2 buruk yang bisa terjadi. Tapi keinginan untuk punya baby lagi enggak terbendung. Padahal anak saya sudah sepasang.  Yang laki laki berumur 18 tahun dan sudah kuliah di UI. Yang perempuan umurnya sudah 15 tahun, duduk di kelas 1 Madrasah Aliyah Negeri. Hhhmmmm…apalagi yang kurang…kok masih mau nambah momongan, di usia senja pula.

Walaupun hasil browsing di internet dan konsultasi dengan dokter kandungan kurang begitu mendukung, saya tetap pada pendirian saya. Ingin punya baby lagi. Insya Allah dikabulkan…tokh yang menentukan saya bisa punya baby lagi bukan dokter, bukan pula data data statistik, tapi Allah yang Maha Kuasa.

KONSULTASI PERTAMA DENGAN DOKTER KANDUNGAN

Sudah bertahun tahun saya enggak ke dokter kandungan. Padahal seharusnya setiap setahun sekali atau bahkan 6 bulan sekali harus pap smear. Saya males banget kalo harus pap smear, enggak nyaman aja tindakannya.

Karena dokter kandungan yang membantu kelahiran kedua anak  saya sudah meninggal, saya enggak tau lagi harus ke dokter kandungan mana.  Yang pasti harus dokter perempuan. Akhirnya saya pilih dokter  di rumah sakit ternama yang ada titel Doktornya….pasti jago nih pikir saya. Tapi dia laki laki… Enggak apa apa deh, kan hanya untuk konsultasi aja, hanya mau nanya nanya tentang hamil di usia senja. Lagi pula kan ditemani suami. Lumayan juga dokternya untuk tambahan informasi. Ada test yang harus dilakukan untuk wanita hamil di atas 35 tahun, namanya amniosintesis. Saya memang sudah tau sebelumnya. Test ini untuk mengetahui ada tidaknya kelainan chromosomes. Setelah cukup bertanya tanya dan siap beranjak keluar kantor dokter….dokternya bilang “ya…kita periksa dalam”. Haaa…? Enggak deh…! Aneh juga nih dokter…wong saya belum hamil.

Segera kita keluar dari ruang dokter untuk lanjut lunch di sebuah small Vietnamese restaurant. Sementara kami menunggu pesanan datang, kami diskusi lagi perihal kehamilan. Tiba tiba dari arah luar masuk seorang pria berumur. Pria itu mencari tempat dan duduk bergabung di meja dengan dua orang yang sedang berbincang bincang. Saya perhatikan dua orang tersebut bingung dengan kehadiran pria berumur ini. Sepertinya mereka heran…kok bergabung padahal enggak kenal ya. Segera pramusaji menghampiri mereka dan meminta pria berumur itu untuk mengambil meja yang masih kosong. Setelah saya perhatikan secara seksama, ternyata pria berumur itu adalah dokter kandungan yang baru saja kami berkonsultasi ….hadduuuuhhhh… kaget saya….enggak  mau tanya tanya ke dia lagi ahhhh!

OVER THE COUNTER PREGNANCY TEST: POSITIVE ATAU NEGATIVE KAH?

Saat yang ditunggu tunggu tiba.
Test PackSaya telat seminggu. Segera saya cek urine dengan OTC pregnancy test. Ternyata…negative… Tapi hati kecil kok bilang ini test kit salah. Penasaran, beberapa hari kemudian saya cek lagi. Dan hasilnya sangat melegakan…positive. Menurut buku jika terjadi pembuahan dibawah 7 hari kadar HCG belum terdeteksi sehingga hasil test urine pada test kit OTC bisa salah. Senang bercampur takut dan  khawatir. Bagaimana nanti kalau keguguran. Bagaimana juga kalau melahirkan anak yang Down Syndrome. Apakah saya siap mengahadapi semua kemungkinan kemungkinan buruk?

KONTROL RUTIN BULANAN

Saatnya bertandang ke dokter kandungan dengan membawa berita kehamilan saya. Kali ini dokternya harus perempuan karena bukan hanya sekedar untuk bertanya tanya lagi. Sempat saya coba ke dokter kandungan perempuan di rumah sakit X yang sama. Saat di nurse counter perawat menanyakan umur dan keluhan. Waduuuh…kok ya keras keras bertanya soal umur. Keluhannya apa…? Hamil…?!! Mereka terperangah. Masuk ke ruang dokter disambut dengan dingin oleh dokter. Mungkin dokter berasumsi kehamilan saya enggak akan bertahan lama, mengingat usia saya yang enggak lazim untuk hamil.  Dokter hanya menganjurkan untuk kembali lagi 2 minggu yang akan datang. Saya enggak mau ke dokter itu lagi kayaknya… enggak cocok…

Akhirnya saya pilih dokter di rumah sakit dekat tempat saya tinggal. Juga biar kalo ada emergency, bisa cepat sampai…enggak kena macet pula. Dokter ini ramah tapi straight to the point, enggak ada basa basi. Setiap pertanyaan yang kita ajukan akan dijawab dengan ramah oleh beliau. Dokter ini juga menganjurkan untuk kembali lagi 2 minggu yang akan datang.  Karena menurut beliau biasanya kehamilan di usia saya tidak berkembang janinnya. Lagi lagi…ini hanya data statistik saya pikir. Siapa tahu saya salah satu dari orang yang bukan termasuk dalam data statistik itu. Tapi walaupun sudah coba membesarkan hati sendiri, tetap saja perasaan khawatir enggak mau hilang. Untuk tidak terlalu kecewa kalau memang janinnya  enggak berkembang, saya enggak mau terlalu berharap.

Dua minggu serasa setahun saat menunggu kunjungan berikutnya ke dokter. Di ruang dokter saya langsung dipersilahkan untuk berbaring. Mau di USG. Waahhh…sebentar lagi bisa lihat calon baby nih. Senangnya….ketika saya melihat ada benda kecil berbentuk bulat agak memanjang di dalam rahim saya. Kata dokter “janinnya berkembang bu”…alhamdulillah. Kunjungan berikutnya sebulan kemudian.

AMNIOCENTESIS

Untuk wanita hamil di atas usia 35 tahun sangat di anjurkan untuk menjalani test amniocentesis. Bahkan rumah sakit di Singapore mewajibkannya. Saya sudah tahu sejak lama perihal test ini, bahkan sebelum saya menikah. Dulu waktu saya baru selesai kuliah dan sedang magang, ada karyawan di kantor yang mempunyai anak dengan cacat bawaan. Kondisinya cukup parah. Anak itu enggak bisa bangun, harus selalu di gendong. Enggak bisa makan sendiri, apalagi bicara. Padahal umurnya sudah beranjak dewasa. Sering terjadi gerakan gerakan kejang. Diberitakan, ibunya pada saat hamil dianjurkan oleh dokter untuk menjalani pemeriksaan amniocentesis. Tapi ibu itu menolak. Naaahhh ini yang membuat saya jadi kepikiran…should I take the test? Kalau ternyata iya ada kelainan chromosomes…mau diapain janinnya? Wuiiihhhh….memikirkannya saja saya sudah pusing. Belum lagi tindakan amniosintesis itu sendiri….menyeramkan…menurut saya loooh! Bayangkan jarum panjang dan berdiameter lebih besar dari jarum suntik Amniocentesisbiasa….ditusukkan ke perut untuk diambil cairan ketubannya. Tidaaaak…!!! Saya browse di internet, katanya bisa terjadi infeksi dari bekas jarum yang ditusukkan ke perut. Waduuuh kalau infeksi di dalam rahim bagaimana? Saya bersikeras enggak akan mau menjalani tindakan amniocentesis. Dokter mengatakan setelah usia kandungan diatas 16 minggu baru bisa dilakukan.

Saya pun bertanya apakah beliau sering melakukan tindakan ini. Dan apakah banyak pasien hamil di atas usia 40 tahun. Ternyata jawaban beliau membuat hati saya ciut…. “Tidak banyak”, kata beliau.  Pernah ada pasien umur 46 tahun tapi pasien itu minta kandungannya digugurkan. Dan di saat yang bersamaan dengan saya, ada juga seorang pasien yang berumur 40 tahun, yang ditangani oleh beliau. Saya tanya apakah dokter melakukan tindakan amniocentesis terhadap pasien itu? “Iya…tapi air ketubannya tidak bisa keambil, jadi harus dilakukan beberapa kali tusukan di tempat yang berbeda”…Haaa…??!!

MORNING SICKNESS

Pada bulan ketiga kehamilan, saya mengalami mual mual jika mencium bau makanan. Apalagi goreng gorengan. Sebetulnya bukan morning sickness kali ya. Karena saya enggak mengalami mual mual pada pagi hari. Pokoknya kapan saja saya mencium bau makanan….bisa pagi, siang bahkan malam, saya selalu mual. Untungnya enggak terlalu severe. Enggak sampai keluar isi perutnya. Pada saat lebaran 2011, saya sedang pada puncak mual mualnya. Padahal lebaran identik dengan banyaknya tersedia makanan makanan enak.  Saya juga tidak punya appetite untuk makan. Sempat khawatir, karena berat badan saya belum bertambah. Malah sepertinya intake makan saya lebih sedikit dibanding sebelum saya hamil.

Kira kira dua bulan saya mengalami mual mual. Setelah itu semua makanan terasa enak. Alhasil berat badan saya pada bulan ke sembilan kehamilan bertambah 14 kg. Pda kehamilan ini saya banyak mengkonsumsi buah buahan. Hanya saja saya enggak minum susu. Memang dari sejak dulu saya enggak suka susu. Tapi kata dokter walaupun gak minum susu, bisa diganti dengan dairy product yang lain seperti keju dan yoghurt. Syukurlah saya suka keju. Tapi itu pun setelah di olah menjadi makaroni schotel, lasagna, pizza atau dibuat cheese sandwich.

KELUHAN KELUHAN YANG DI RASA

Selain rasa mual mual pada awal kehamilan, saya rasakan kehamilan di usia senja ini sangat melelahkan. Gampang sekali saya merasa capek. Di usia kandungan enam bulan, saya sudah harus istirahat beberapa kali di anak tangga untuk mencapai kamar saya yang letaknya di lantai dua.  Jadi jika saya lupa membawa sesuatu ke kamar, saya harus minta tolong orang lain untuk membawakannya ke atas. Terlalu berat buat saya kalo harus naik turun tangga.

Saya pun beberapa kali pendarahan, enggak banyak sih… darah yang keluar. Warnanya coklat tua, bukan merah segar, dan terus menerus. Pastinya saya cemas dan khawatir akan nasib baby di kandungan. Dulu pun ketika saya hamil anak pertama, saya sempat beberapa kali pendarahan. Bahkan harus di rawat inap di rumah sakit. Sepertinya 5 kali saya di rawat inap di rumah sakit. Enggak boleh bergerak, harus bed rest. Pada saat itu saya mengalami placenta previa. Karena pengalaman itu, ketika saya pendarahan pada kehamilan ini, saya enggak mau periksa ke dokter. Takut harus di rawat inap seperti dulu. Akhirnya saya hanya beristirahat di rumah. Enggak banyak bergerak, hanya kalau ke kamar mandi saja saya turun dari tempat tidur. Syukurlah setelah 5 hari, pendarahan pun berhenti. Kata orang awam…kecapekkan tuh.

Saya sempat berpikir, bagaimana kalau saya pindah ke rumah orang tua saya dulu. Biar saya enggak naik turun tangga. Kalau saya pindah ke kamar tidur di lantai bawah, gak mungkin. Karena di bawah hanya ada satu kamar tidur. Itupun dihuni oleh…ibu mertua…  Kan enggak mungkin dong…masak nyuruh ibu mertua naik turun tangga. Kalau di rumah orang tua, enggak nyaman. Karena semua kebutuhan ada di rumah saya. Sempat juga orang tua saya menyiapkan kamar untuk saya tempati. Tapi saya enggak mau. Ada solusi lain yang jauh lebih baik. Suami saya tanpa diduga duga mendapatkan housing loan dari kantornya. Kami pun berniat mencoba mencari rumah yang dekat dengan rumah kami yang sekarang. Ibu saya berhasil mendapat informasi tentang rumah mau di jual. Kira kira 200 meter jaraknya dari rumah.

(BERSAMBUNG…)

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , | 4 Comments